kita adalah orang yang beruntung
Bahagia adalah tujuan yang dicari orang di dunia ini. Apa pun yang seseorang lakukan pada dasarnya untuk mencapai kebahagiaan itu. Masing – masing hanya berbeda perantara kebahagiaan itu (tentang hakikat kebahagiaan ini sudah dijelaskan dalam bab Proses Menuju Bahagia). Yang jadi masalah, bagaimana kiat – kiat untuk mendapatkan kebahagiaan itu? Sulitkah mencapainya?
Bahagia itu sebenarnya mudah. Mudah karena bahagia itu tergantung pada diri kita sendiri. Kalau kita ingin bahagia, insya Allah bisa bahagia. Namun jika kita tidak mau bahagia (adakah?), kebahagiaan tentu tidak akan datang. Bagaimana bisa? Mengapa semudah itu? Ya, sebab kebahagiaan itu tergantung cara pandang kita. Bahkan sebuah musibah kalau kita sifati secara positif maka bisa menjadi anugerah. Ujungnya kita akan mengucapkan, ”Alhamdulillah”. Jadi, cara pandang kita terhadap sesuatu menentukan kebahagiaan itu sendiri. Seperti kata pepatah Cina di atas, ”Orang yang meninggalkan rumahnya untuk mencari kebahagiaan adalah ibarat orang mengejar bayang – bayang.” Kebahagiaan ada di dalam diri, tidak ke mana-mana.
Ada sebuah buku yang cukup menarik menyangkut kita menjadi bahagia. Judulnya The 7 laws of Happiness, tulisan Arvan Pradiansyah. Dalam buku tersebut, Arvan menyebutkan ada tujuh rahasia hidup yang bahagia. Tiga yang pertama Intrapersonal Relation merupakan syarat bahagia untuk diri sendiri, terdiri dari patience (sabar), gratefulness (syukur), dan simplicity (sederhana, kemampuan menangkap esensi). Tiga yang kedua Interpersonal Relation, merupakan kebahagiaan terkait orang lain, terdiri dari love (kasih), giving (memberi), dan forgiving (memaafkan). Puncaknya ialah Spiritual Relation, yaitu surrender (pasrah), ialah kemampuan berserah diri dan percaya seratus persen kepada Tuhan. Dalam diskusi dan bukunya, Arvan memberi contoh dan inspirasi nyata betapa meraih kebahagiaan puncak itu tidaklah hadir sekonyong – konyong, melainkan dengan perjuangan yang berat, bahkan perlu dilatih.
Kali ini tidak akan dibahas kiat – kiat yang terlalu rumit. Berikut ini adalah kiat bahagia yang cukup sederhana.
Bagun pagi ceria, syukuri modal 24 jam ke depan
Untuk bahagia cukup sederhana. Ketika bangun pagi, kita jalani hidup dengan ceria. Jangan pikirkan dulu kejadian – kejadian yang lalu. Tentang perusahaan, pekerjaan, sekolah, perjalanan dan sebagainya. Jalani dahulu dengan ceria karena pada permulaan hari itulah saat – saat yang menentukan berikutnya. Kemudian kita bersyukur bahwa kita masih diberikan hidup. Dan hari itu kita punya modal 24 jam untuk berkarya. Itulah anugerah Allah yang harus kita syukuri. Bahkan kita mensyukuri hari ini yang sebenarnya masa depan hari kemarin. Alhamdulillah sudah kita jalani.
Memang kadang kala kita lupa untuk bersyukur. Kesibukan sehari – hari telah melalaikan kita dari rasa bersyukur. Kita merasa hanya ingin bersyukur kalau sudah sukses. Padahal syarat sukses ya bersyukur. Allah berfirman,
”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah kepadam, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)
Artinya, tambahan nikmat Allah akan kita rasakan apabila kita bersyukur. Hari ini kita mempunyai anugerah bernama kehidupan. Kalau kita syukuri, Allah akan berikan anugerah – anugerah yang lain.
Seharian dan kesibukan membuat kita lupa bersyukur bahkan untuk hal yang sederhana sekalipun. Kadang kala kita sendiri tidak merasa bahwa kita mendapatkan anugerah yang layak kita syukuri. Kita selalu mengeluh atas penderitaan yang menimpa kita. Padahal kalau mau sedikit merenung saja, banyak sekali kebahagiaan yang saat ini kita dapatkan.
Berikut ini ada sebua cuplikan tulisan yang cukup ”provokatif” dari seorang marketing dan penulis, yaitu Ippho Santosa yang dikutip dari situs www.andriewongso.com.
Rahasia Besar tentang Syukur
Syukur, inilah satu jenis perasaan yang jarang bermukim permanen di hati kita. Bahkan, kerap kita pula dan alpa. Istilah saya, kadarkum. Kadang sadar, kadang kmat. Nah, sidang pembaca sekalian, mulai sekarang, ketahuilah bahwa sebenarnya Anda adalah orang yang sangat beruntung, baik dalam bisnis maupun dalam kehidupan sehari – hari. Dan itu amat layak untuk Anda syukuri. Hm, tidak percaya? Silakan simak alinea berikutnya.
Jika Anda mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup badan, atap di atas kepala, dan tempat untuk tidur, maka Anda lebih kaya daripada 75 persen penduduk dunia! Jika Anda mempunyai tabungan di bank dan uang receh di dompet, maka Anda lebih kaya daripada 92 persen penduduk dunia!
Jika Anda tidak pernah mengalami kesengsaraan karena perang, penjara, penyiksaan, atau kelaparan maka Anda lebih beruntung dai pada 700 juta orang di dunia! Jika Anda dapat menghadiri tempat ibadah atau pertemuan religius tanpa rasa takut akan penyerangan, penangkapan, atau kematian maka Anda lebih daripada 3 miliar orang di dunia! Dan jika Anda dapat membaca tulisan saya, maka Anda lebih beruntung daripada lebih dari 2juta orang di dunia yang tidak dapat membaca sama sekali!
Orang yang pandai bersyukur akan mendapatkan kebahagiaan. Bahkan tidak perlu macam – macam, dengan stu kiat ini saja, yaitu pandai bersyukur, insya Allah kita akan selalu bahagia.
Nikmati hadiah kemerdekaan dari Sang Pencipta
Kegiatan di atas sebenarnya juga masih termasuk rasa syukur. Sebab, kita sebagai manusia telah mendapat anugerah berupa kemerdekaan oleh Sang Pencipta. Kita bisa berkarya hari ini sesuai dengan kehendak kita. Maka, cocoklah perkataan di depan bahwa kebahagiaan sebenarnya terserah kita. Kita bebas untuk memilih.
Jika kita mau, kita bisa bahagia. Ketika kita bisa memilih sesuatu maka itu adalah sesuatu yang harus kita syukuri. Dalam buku Daun Berserakan sudah diuraikan bagaimana kita ingin menjalani hari ini. Jika hari ini kita ingin bahagia, maka bahagialah hari ini. Jika kita ingin menderita, maka menderitalah hari ini (mana ada orang yang menginginkan derita – setidaknya secara sengaja). Bahagia dan menderita tergantung pada pola pikir yang ada di dalam pikiran kita.
Kadang kala kita merasa bahwa diri kita terimpit, tidak punya pilihan. Namun coba kita renungkan. Apakah betul kita tidak punya pilihan? Seorang karyawan di kantor di desak atasannya untuk keluar karena melakukan kesalahan prosedural, meskipun bukan salahnya. Namun apa daya pihak manajemen sudah memutuskan untuk mem-PHK dirinya. Apakah dia tidak punya pilihan? Kalau dia berpikiran bahwa rezeki itu hanya bisa didapat dari perusahaan itu ya barangkali ia tidak punya pilihan. Tetapi kalau ia berpikir bahwa rizki Allah sangat luas, tidak terbatas di satu perusahaan atau satu tempat saja maka ia bisa kemana saja. Ia bisa memakai uang pesangonnya untuk membuka usaha. Ia bisa melamar pekerjaan di perusahaan lain. Ia bisa bekerja freelance, mengajar dan sebagainya. Asal ia tidak berbuat kriminal maka insya Allah tempat itu selalu ada.
Jadi, kita jangan merasa sempit. Allah sudah meluaskan rizki buat kita, kitalah yang harus menyambutnya. Kita punya pilihan untuk itu. Dan jika kita menyadarinya, insya Allah kita akan merasakan kebahagiaan. Ternyata kita masih memiliki kemerdekaan.
Terima, cintai, akrabi, dia yang terlihat di cermin.
Kalimat di atas bermakna pasrah dan tawakal. Seringkali kita merasa bahwa diri kita banyak kekurangan. Padahal memang tidak ada manusia yang sempurna. Kita harus menerima diri kita apa adanya dan jadikan apa yang ada itu adalah sebuah kekuatan.
Allah telah menciptakan manusia masing – masing dengan kelebihannya. Tidak ada manusia yang dicipta jelek semua. Manusia pun, jika menciptakan sesuatu pasti ciptaan itu ada manfaatnya. Apalagi Allah menciptakan mahluk yang dicipta ”fii ahsana taqwim. Dalam bentuk yang sebagus – bagusnya”. Maka cintailah diri kita sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi.
Menerima, mencintai dan mengakrabi diri sendiri merupakan kebahagiaan tersendiri. Dengan kita menerima diri kita apa adanya, kita pasrah kepada Allah. Allah pasti memberikan yang terbaik buat kita. Apa – apa yang ada di dalam diri kita ternyata untuk kepentingan diri kita sendiri. Untuk kebahagiaan kita. Akhirnya bersyukurlah kita. Kembali kita mengucapkan, ”Alhamdulillah....”
Amankan diri dengan belajar
Setiap hari kita menghadapi sesuatu. Kadang kala ketika kita menghadapinya kita kurang siap. Seperti itulah yang sering membuat kita kecewa atau membuat kebahagiaan itu hilang. Suatu malam seorang pelajar berniat untuk mempelajari satu bab tertentu. Tapi dia tertidur. Besok paginya, di kelas sang guru menanyakan kepada seluruh isi kelas bab yang harusnya dibaca anak ini tadi malam. Semua tidak ada yang bisa menjawab termasuk dirinya. Akhirnya dia hanya bisa kecewa, ”Andaikan tadi malam aku buka buku itu, tentu aku bisa menjawabnya.” Begitulah penyesalan.
Agar tdiak mudah menyesal, buatlah diri selalu siap. Bagaimana caranya? Never Ending to learn. Jangan pernah berhenti untuk belajar. Apa yang ada di sekeliling kita jadikanlah pelajaran buat kita. Jangan malu bertanya, jangan malu mencoba. Siapa tahu apa yang kita alami hari ini berguna buat masa depan. Kesiapan itulah yang melahirkan kebahagiaan kita.
Tempatkan sasaran di tempat ”tinggi” dan raih dengan antusias
Pernah lihat iklan di televisi yang bercerita tentang tantangan? Sekelompok orang naik ke atas gunung membawa sejumlah perbekalan, lalu terjun ke jurang yang sangat dalam dengan mengenakan parasut. Ada pula yang baik pesawat dan terjun bersama mobil jipnya dan mengembara di dataran tinggi. Ada juga pergi ke hutan, mengarungi sungai yang sangat deras airnya dan berbahaya. Mereka semua menikmati pengalaman itu. Mereka berjuang keras untuk mencapainya, kemudian mereka menimatinya.
Sama saja dalam kehidupan ini. Setiap orang punya cita – cita. Ketika sasaran kita tempatkan di tempat yang tinggi, kita pun antusias untuk mencapainya. Bayangkan kalau Anda menjadi seseorang yang berpenghasilan seperti David Bechham, pemain bola yang dikontrak jutaan dolar. Tentu kita akan antusias mencapainya.
Dalam mencapai cita – cita atau sasaran itu, selain hasil, prosesnya pun kita nikmati. Bagaimana beratnya medan ketika mendaki gunung, bagaimana derasnya air sungai, bagaimana ketatnya persaingan, dan sebagainya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Ketika sasaran tinggi itu dapat diraih, kebahagiaan puncak pun didapat. Kita bisa bayangkan ketika kita bisa menaklukkan puncak Gunung Everest.
Jadi, mengejar cita – cita yang tinggi mendapatkan hasilnya merupakan suatu kebahagiaan tersendiri.
“Bercintalah” dengan gairah
LOVE, is the only force that can transcend the bounds of reason, the distinctions of knowledge, and the isolation of normal consciousness. It is not only sensual pleasure. It is love for all things, for creation itself. Love is continually expanding capacity that culminates in certainty, in the recognition that there is nothing in this world and in the next that is not both loved and loving.
Cinta adalah sesuatu yang membuat kita bahagia. Melakukan sesuatu dengan cinta artinya meletakkan kebahagiaan di pekerjaan itu. Semakin besar cinta, semakin besar pula kebahagiaan kita. Ada sebuah ungkapan yang menarik, “Memang tidak semua dari kita bias melakukan hal – hal besar. Tapi semua bisa melakukan hal – hal kecil dengan cinta yang besar.” Sungguh indah.
Seperti dikatakan sebelumnya, ketika kita membubuhkan cinta pada setiap aktivitas maka di situlah akan kita tuai kebahagiaan. Pekerjaan yang dilakukan dengan cinta minimal akan memberikan rasa bahagia, tak peduli pekerjaan itu sukses atau gagal. Ada sebuah panitia kegiatan malam amal dibentuk untuk mengumpulkan dana bagi masyarakat yang terkena musibah bencana alam. Mereka bekerja keras mewujudkan kegiatan itu. Aktivitas tersebut mereka lakukan sebagai wujud kecintaan mereka dan rasa simpati yang mereka berikan pada para korban bencana alam tersebut. Namun ketika mendekati hari H, pihak berwajib membatalkan acara tersebut karena dekat dengan acara pejabat tinggi negara. Akhirnya acara itu harus batal. Kekecewaan memang ada, namun karena pekerjaan itu dikerjakan dengan rasa cinta, mereka tetap bahagia. Mereka malah membuat kegiatan lain yang lebih besar lagi. Artinya, dengan cinta semangat tak akan pudar.
Itulah sekelumit kiat – kiat meraih bahagia. Kiat ini merupakan pengalaman pribadi yang membekas di hati penulis. Semoga saja hal ini sama juga dirasakan oleh pembaca sekalian. Semoga bermanfaat.

Komentar
Posting Komentar